connecting to heaven

August 3rd, 2008 by daeng05

TUHAN :
        Kamu memanggilKu ?

AKU :
        Memanggilmu?
        Tidak.. Ini siapa ya?

TUHAN :
        Ini TUHAN.
       Aku mendengar doamu.
       Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.

AKU :
        Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik.
       Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.

TUHAN :
       Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.

AKU :
       Nggak tau ya.
       Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.
       Hidup jadi seperti diburu-buru.
       Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN :
       Benar sekali.
       Aktivitas memberimu kesibukan.
       Tapi produktivitas memberimu hasil.
       Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu.

AKU :
       Saya mengerti itu.
       Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya.
       Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.

TUHAN :
       Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu,
        dengan memberimu beberapa petunjuk.
       Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.

AKU :
       OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?

TUHAN :
       Berhentilah menganalisa hidup.
       Jalani saja.
       Analisalah yang membuatnya jadi rumit.

AKU :
       Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa  senang?

TUHAN :
       Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.
       Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa.
       Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu.
       Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.

AKU :
       Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu
        banyak ketidakpastian.

TUHAN :
       Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.
       Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.

AKU :
       Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.

TUHAN :
       Rasa sakit tidak bisa dihindari,
        tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.

AKU :
       Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?

TUHAN :
       Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.
       Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.
       Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita.
       Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.

AKU :
       Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN :
       Ya.
       Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.
       Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.

AKU :
       Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu?
       Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?

TUHAN :
       Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental.
       Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.

AKU :
       Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah…

TUHAN :
       Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.
       Lihatlah ke dalam.
       Melihat ke luar, kamu bermimpi.
       Melihat ke dalam, kamu terjaga.
       Mata memberimu penglihatan.
       Hati memberimu arah.

AKU :
       Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita.
       Apa yang dapat saya lakukan?

TUHAN :
       Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
       Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri.
       Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan.
       Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.

AKU :
       Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?

TUHAN :
       Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan.
       Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.

AKU :
       Apa yang menarik dari manusia?

TUHAN :
       Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?".
       Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?"

AKU :
        Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?

TUHAN :
       Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.
       Berhentilah mencari mengapa saya di sini.
       Ciptakan tujuan itu.
       Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.

AKU :
       Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?

TUHAN :
       Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan.
       Peganglah saat ini dengan keyakinan.
       Siapkan masa depan tanpa rasa takut.

AKU :
       Pertanyaan terakhir, Tuhan.
       Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.

TUHAN :
       Tidak ada doa yang tidak dijawab.
       Seringkali jawabannya adalah TIDAK.

AKU :
       Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.

TUHAN :
       Oke.
       Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.
       Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan.
       Percayalah padaKu.
       Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

………TUHAN has signed out
Salam,

obama dan timur tengah

July 16th, 2008 by daeng05

Kemengan Barack Obama atas Hillary Clinton untuk menjadi kandidat presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat menunjukkan bahwa rakya AS sekarang ini menginginkan perubahan politik di negeri adi kuasa ini. Bukan hanya perubahan dari segi pergantian rezim tapi lebih jauh dari itu: sebuah perubahan kebijakan.

Kenyataan tersebut sekaligus menunjukkan kebijakan dan manejemen politik presiden George W. Bush selama ini dianggap gagal menangani persoalan dalam negeri, terbukti semakin merosotnya kondisi perekonomian AS, angka pengangguran yang cenderung meningkat. Juga citra AS di mata internasional, terutama bagi negera berkembang, semakin memburuk akibat jejak Presiden Bush setelah intervensi politik di Timur Tengah; Aghanistan, Irak, Lebanon, dan Iran.

Rupanya kebijakan represif dan militerstik Presiden Bush dalam menangani prasangka kasus senjata pemusnah massal di Irak, yang kemudian tidak terbukti, membuat kerugian besar bagi AS sendiri baik secara finansial maupun jiwa. Ambisi Bush untuk menguasai Irak menjadi bumerang yang mencoreng mukanya sendiri. Rakyat AS jengah terhadap Bush.

Bagaimana tidak, AS dikenal sebagai kampiun demokrasi, sistem yang anti kekerasan serta mengedepankan dialogis. Tapi di tangan Bush AS berubah menjadi bangsa yang brutal. Tidak taat aturan. Menyepelekan teguran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Parahnya lagi, mengangkat senjata termasuk saat melakukan investigasi untuk menemukan pusat senjata pembunuh massal di Irak. Setelah tidak terbukti, isu pun berganti: menegakkan demokrasi.

Demikian halnya, ketika menangani kasus proyek pengayaan uranium di Iran, ia begitu saja mencampakkan hasil investigasi yang dilakukan oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dengan mengeluarkan statemen penyerangan pusat proyek tersebut. Pimpinan IAEA, Mohamed ElBaradei mengambil sikap tegas dan menyatakan akan mundur jika kekuatan utama meluncurkan suatu serangan militer melawan program nuklir Iran. Sebab menurutnya invansi militer melawan Iran akan menciptakan bahaya besar pada Timur Tengah dan dunia. Pada saat yang sama, ElBaradei menjamin non-diversinya pengumuman materi nuklir dalam aktifitas nuklir negara tersebut.

Ironis memang, AS sebagai gembong modernitas dan pengusung globalisasi kemudian bertindak primitif. Tidak menghargai persaingan secara sehat dengan pihak-pihak yang dianggap tidak sepakat dan menentang setiap pandangan dan kebijakannya. Sikap hipokrit para petinggi negeri AS tersebut, disadari betul oleh masyarakat AS. Gayung bersambut, Barack Obama hadir dalam saat yang tepat. Obama, pada kompetisi perebutan tiket sebagai kandidat presiden dari Partai Demokrat, melempar isu dan manuver yang berseberangan dengan Bush; menringankan pendekatan diplomasi dengan Iran dan mengharapkan tentara AS untuk keluar dari Irak.

Pertanyaannya, apakah kebijakan dan isu elegan yang diusung Obama bisa dengan leluasa melenggang ke puncak kursi kepresidenan sementara kursi panas kepresidenan AS dikelilingi kursi-kursi lobi Yahudi? Katakanlah dalam masyarakat yang terbuka, lobi Yahudi tidak efektif mempengaruhi masyarakat pemilih dan masyarakat AS sehingga mampu memenangkan Obama. Tapi bagaimana jika sudah dalam ruang sidang tertutup, dimana hanya dihadiri oleh orang-orang berpengaruh, apakah Lobi Yahudi tetap tidak punya daya cengkeram?

John Mearsheimer dan Stephen Walt, dalam bukunya ‘The Israel Lobby and US Foreign Policy’ memaparkan bahwa lobi Yahudi-Zionis memiliki pengaruh yang sangat kuat dan luas di AS. Lobi ini mampu mendiktekan kehendak dan kemauannya terhadap pemerintah AS untuk kemudian melalui tangan AS, mereka menguasai negara-negara lain di dunia. Di dalam buku tersebut, terungkap jelas bahwa serangan ke Irak karena hasutan Lobi Yahudi, bukan alasan minyak seperti yang selama ini diketahui. Apalagi karena senjata pemusnah massal yang tak pernah ditemukan itu. Dan sekarang lobi terus berusaha agar AS menyerang Iran dan Suriah. Bila itu terjadi, bisa dibayangkan betapa besar jumlah korban yang akan jatuh, berapa banyak pula tentara AS yang akan mati. Semuanya demi kepentingan Israel. Negeri itu baru merasa aman bila semua tetangganya telah porak-poranda oleh serbuan tentara AS.

Senada dengan itu, Dr Elahe Rostami, pakar masalah Timur Tengah di London, dalam sebuah wawancara televisi Chanel Iran News Networking mengatakan kedekatan AS dan rezim Zionis Israel. Ia juga menyebutkan bahwa AS setiap tahun memberikan bantuan sebesar tiga miliar dolar AS kepada rezim Zionis untuk menyulut konflik di Timur Tengah. Dr Elahe Rostami juga mengatakan memang ada agenda dan aktivitas yang tersusun secara sistematis untuk mengubah opini dunia.

Dan negara-negara yang menyuarakan pembelaan kepada rakyat Palestina seperti Iran dan Suriah harus dimusuhi dan ditentang. Rostami juga mengatakan bahwa lobi Zionis-Yahudi di AS sama sekali tidak mentolerir adanya suara kritik penentangan dan protes terhadapnya. Hanya suara-suara yang mendukung diberi kesempatan untuk memperdengarkannya. Elahe Rostami menjelaskan invasi dan pendudukan yang dilakukan AS atas Irak dan Afganistan seluruhnya adalah hasil dari tekanan yang dilakukan orang-orang Zionis terhadap pemerintah AS.

Mengingat pengaruh lobi Yahudi-Zionis di pemerintahan AS sangat kuat membuat kita lebih banyak apriori terhadap perubahan politik yang terjadi di AS. Kalaupun ada suara sebaliknya, pada saat bersamaan juga berkelebat keyakinan bahwa hal itu tidak akan berlangsung lama. Sebab Yahudi-Zionis begitu kuat memegang kaki kursi kepresidenan gedung putih, dan mereka tidak akan pernah tinggal diam sebelum keinginannya tercapai.

Pengaruh lobi Yahudi yang luar biasa tersebut membuat kita pesimistis bahwa pergantian pimpinan yang terjadi di langit Washington, akan diikuti perubahan kebijakan politik AS terhadap Timur Tengah. Siapapun yang memimpin tetap akan menempuh kebijakan politik yang serba keras dan selalu menggunakan pendekatan militer di Timur Tengah sebagaimana misi politik kaum Zionis yang menginginkan konflik selalu terjadi di kawasan Timur Tengah.

Kegembiraan kita melihat keseriusan Obama untuk melakukan perubahan terhadap kebijakan politik luar negeri AS, khususnya mengenai kawasan Timur Tengah, memang cukup beralasan. Apalagi jika memperhatikan tindakan Obama ketika mengunjungi Afghanistan dan Irak bulan lalu dalam rangka kampanye mendapatkan dukungan politik. Tapi, sekali lagi, tampaknya tidak lebih dari sebuah kegembiraan yang seumur jagung.

Mengapa? Jawabnya; Pertama, Obama dengan isu perubahan kebijakan politik untuk melakukan cara diplomasi dengan Iran dan menginginkan adanya perdamaian di Timur Tengah adalah sesuatu yang sama sekali tidak diinginkan politik Zionis-Yahudi yang menguasai pemerintahan AS.

Karenanya lobi Yahudi akan bekerja semaksimal mungkin guna menggagalkan Obama menduduk kursi kepresidenan di Washington dan di pihak lain melicinkan jalan Mccain, kandidat presiden dari Partai Republik. Kedua, kalau pun Obama lolos menjadi presiden maka lobi Yahudi akan bekerja pada tingkat elit. Lobi Yahudi akan berusaha mempengaruhi orang-orang penting di kabinet Obama untuk selalu merongrong sikap dan kebijakan politik Obama yang dianggap berseberangan dengan misi zionis. Ketiga, jika semua jalan telah ditempuh namun gagal maka jalan terakhir, bukan mustahil, menembak mati Obama.

Cara-cara seperti itu sangat mungkin dilakukan kaum Zionis-Yahudi. Apalagi jika memperhatikan pesan Alquran bahwa mereka tidak akan pernah diam atau senang sebelum orang-orang yang menentang pendapat dan keyakinannya mengikutinya. Satu hal penting lain yang perlu dicatat bahwa Obama lahir dari campuran darah muslim dan nasrani.

Kendati Obama menunjukkan niat dan keinginan baik untuk membangun sebuah jembatan baru untuk memperbaiki dan memperlancar hubungan antara AS dengan negara-negara di wilayah Timur Tengah, namun tidak semestinya disambut dengan euphoria berlebihan yang bisa membuat kita lengah untuk terus mewaspadai sepak terjang lobi Yahudi di belakang pemerintahan AS. Karena tidak menutup kemungkinan, Obama sewaktu-waktu bisa kalah atau dengan kata lain sedikit melunak –jika menang– akibat pengaruh dan tekanan yang kuat dari kekuatan lobi Yahudi. Atau dengan kemungkinan terburuk Obama terbunuh.

Dengan begitu sikap Iran dan Suriah yang tidak mau tunduk begitu saja pada titah AS yang berstandar ganda, sejauh ini dapat dikatakan sudah berada pada jalan yang benar. Memang harus ada negara yang berani berdiri tegak menghadapi segala macam alibi pemerintahan AS yang dicengkeram cakar maut Zionis. Jika tidak, negara di Timur Tengah akan menjadi sapi piaraan yang sengaja digemukkan untuk kemudian diperas

obama dan timur tengah

July 16th, 2008 by daeng05

Kemengan Barack Obama atas Hillary Clinton untuk menjadi kandidat presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat menunjukkan bahwa rakya AS sekarang ini menginginkan perubahan politik di negeri adi kuasa ini. Bukan hanya perubahan dari segi pergantian rezim tapi lebih jauh dari itu: sebuah perubahan kebijakan. Kenyataan tersebut sekaligus menunjukkan kebijakan dan manejemen politik presiden George W. Bush selama ini dianggap gagal menangani persoalan dalam negeri, terbukti semakin merosotnya kondisi perekonomian AS, angka pengangguran yang cenderung meningkat. Juga citra AS di mata internasional, terutama bagi negera berkembang, semakin memburuk akibat jejak Presiden Bush setelah intervensi politik di Timur Tengah; Aghanistan, Irak, Lebanon, dan Iran. Rupanya kebijakan represif dan militerstik Presiden Bush dalam menangani prasangka kasus senjata pemusnah massal di Irak, yang kemudian tidak terbukti, membuat kerugian besar bagi AS sendiri baik secara finansial maupun jiwa. Ambisi Bush untuk menguasai Irak menjadi bumerang yang mencoreng mukanya sendiri. Rakyat AS jengah terhadap Bush. Bagaimana tidak, AS dikenal sebagai kampiun demokrasi, sistem yang anti kekerasan serta mengedepankan dialogis. Tapi di tangan Bush AS berubah menjadi bangsa yang brutal. Tidak taat aturan. Menyepelekan teguran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Parahnya lagi, mengangkat senjata termasuk saat melakukan investigasi untuk menemukan pusat senjata pembunuh massal di Irak. Setelah tidak terbukti, isu pun berganti: menegakkan demokrasi. Demikian halnya, ketika menangani kasus proyek pengayaan uranium di Iran, ia begitu saja mencampakkan hasil investigasi yang dilakukan oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dengan mengeluarkan statemen penyerangan pusat proyek tersebut. Pimpinan IAEA, Mohamed ElBaradei mengambil sikap tegas dan menyatakan akan mundur jika kekuatan utama meluncurkan suatu serangan militer melawan program nuklir Iran. Sebab menurutnya invansi militer melawan Iran akan menciptakan bahaya besar pada Timur Tengah dan dunia. Pada saat yang sama, ElBaradei menjamin non-diversinya pengumuman materi nuklir dalam aktifitas nuklir negara tersebut. Ironis memang, AS sebagai gembong modernitas dan pengusung globalisasi kemudian bertindak primitif. Tidak menghargai persaingan secara sehat dengan pihak-pihak yang dianggap tidak sepakat dan menentang setiap pandangan dan kebijakannya. Sikap hipokrit para petinggi negeri AS tersebut, disadari betul oleh masyarakat AS. Gayung bersambut, Barack Obama hadir dalam saat yang tepat. Obama, pada kompetisi perebutan tiket sebagai kandidat presiden dari Partai Demokrat, melempar isu dan manuver yang berseberangan dengan Bush; menringankan pendekatan diplomasi dengan Iran dan mengharapkan tentara AS untuk keluar dari Irak. Pertanyaannya, apakah kebijakan dan isu elegan yang diusung Obama bisa dengan leluasa melenggang ke puncak kursi kepresidenan sementara kursi panas kepresidenan AS dikelilingi kursi-kursi lobi Yahudi? Katakanlah dalam masyarakat yang terbuka, lobi Yahudi tidak efektif mempengaruhi masyarakat pemilih dan masyarakat AS sehingga mampu memenangkan Obama. Tapi bagaimana jika sudah dalam ruang sidang tertutup, dimana hanya dihadiri oleh orang-orang berpengaruh, apakah Lobi Yahudi tetap tidak punya daya cengkeram? John Mearsheimer dan Stephen Walt, dalam bukunya ‘The Israel Lobby and US Foreign Policy’ memaparkan bahwa lobi Yahudi-Zionis memiliki pengaruh yang sangat kuat dan luas di AS. Lobi ini mampu mendiktekan kehendak dan kemauannya terhadap pemerintah AS untuk kemudian melalui tangan AS, mereka menguasai negara-negara lain di dunia. Di dalam buku tersebut, terungkap jelas bahwa serangan ke Irak karena hasutan Lobi Yahudi, bukan alasan minyak seperti yang selama ini diketahui. Apalagi karena senjata pemusnah massal yang tak pernah ditemukan itu. Dan sekarang lobi terus berusaha agar AS menyerang Iran dan Suriah. Bila itu terjadi, bisa dibayangkan betapa besar jumlah korban yang akan jatuh, berapa banyak pula tentara AS yang akan mati. Semuanya demi kepentingan Israel. Negeri itu baru merasa aman bila semua tetangganya telah porak-poranda oleh serbuan tentara AS. Senada dengan itu, Dr Elahe Rostami, pakar masalah Timur Tengah di London, dalam sebuah wawancara televisi Chanel Iran News Networking mengatakan kedekatan AS dan rezim Zionis Israel. Ia juga menyebutkan bahwa AS setiap tahun memberikan bantuan sebesar tiga miliar dolar AS kepada rezim Zionis untuk menyulut konflik di Timur Tengah. Dr Elahe Rostami juga mengatakan memang ada agenda dan aktivitas yang tersusun secara sistematis untuk mengubah opini dunia. Dan negara-negara yang menyuarakan pembelaan kepada rakyat Palestina seperti Iran dan Suriah harus dimusuhi dan ditentang. Rostami juga mengatakan bahwa lobi Zionis-Yahudi di AS sama sekali tidak mentolerir adanya suara kritik penentangan dan protes terhadapnya. Hanya suara-suara yang mendukung diberi kesempatan untuk memperdengarkannya. Elahe Rostami menjelaskan invasi dan pendudukan yang dilakukan AS atas Irak dan Afganistan seluruhnya adalah hasil dari tekanan yang dilakukan orang-orang Zionis terhadap pemerintah AS. Mengingat pengaruh lobi Yahudi-Zionis di pemerintahan AS sangat kuat membuat kita lebih banyak apriori terhadap perubahan politik yang terjadi di AS. Kalaupun ada suara sebaliknya, pada saat bersamaan juga berkelebat keyakinan bahwa hal itu tidak akan berlangsung lama. Sebab Yahudi-Zionis begitu kuat memegang kaki kursi kepresidenan gedung putih, dan mereka tidak akan pernah tinggal diam sebelum keinginannya tercapai. Pengaruh lobi Yahudi yang luar biasa tersebut membuat kita pesimistis bahwa pergantian pimpinan yang terjadi di langit Washington, akan diikuti perubahan kebijakan politik AS terhadap Timur Tengah. Siapapun yang memimpin tetap akan menempuh kebijakan politik yang serba keras dan selalu menggunakan pendekatan militer di Timur Tengah sebagaimana misi politik kaum Zionis yang menginginkan konflik selalu terjadi di kawasan Timur Tengah. Kegembiraan kita melihat keseriusan Obama untuk melakukan perubahan terhadap kebijakan politik luar negeri AS, khususnya mengenai kawasan Timur Tengah, memang cukup beralasan. Apalagi jika memperhatikan tindakan Obama ketika mengunjungi Afghanistan dan Irak bulan lalu dalam rangka kampanye mendapatkan dukungan politik. Tapi, sekali lagi, tampaknya tidak lebih dari sebuah kegembiraan yang seumur jagung. Mengapa? Jawabnya; Pertama, Obama dengan isu perubahan kebijakan politik untuk melakukan cara diplomasi dengan Iran dan menginginkan adanya perdamaian di Timur Tengah adalah sesuatu yang sama sekali tidak diinginkan politik Zionis-Yahudi yang menguasai pemerintahan AS. Karenanya lobi Yahudi akan bekerja semaksimal mungkin guna menggagalkan Obama menduduk kursi kepresidenan di Washington dan di pihak lain melicinkan jalan Mccain, kandidat presiden dari Partai Republik. Kedua, kalau pun Obama lolos menjadi presiden maka lobi Yahudi akan bekerja pada tingkat elit. Lobi Yahudi akan berusaha mempengaruhi orang-orang penting di kabinet Obama untuk selalu merongrong sikap dan kebijakan politik Obama yang dianggap berseberangan dengan misi zionis. Ketiga, jika semua jalan telah ditempuh namun gagal maka jalan terakhir, bukan mustahil, menembak mati Obama. Cara-cara seperti itu sangat mungkin dilakukan kaum Zionis-Yahudi. Apalagi jika memperhatikan pesan Alquran bahwa mereka tidak akan pernah diam atau senang sebelum orang-orang yang menentang pendapat dan keyakinannya mengikutinya. Satu hal penting lain yang perlu dicatat bahwa Obama lahir dari campuran darah muslim dan nasrani. Kendati Obama menunjukkan niat dan keinginan baik untuk membangun sebuah jembatan baru untuk memperbaiki dan memperlancar hubungan antara AS dengan negara-negara di wilayah Timur Tengah, namun tidak semestinya disambut dengan euphoria berlebihan yang bisa membuat kita lengah untuk terus mewaspadai sepak terjang lobi Yahudi di belakang pemerintahan AS. Karena tidak menutup kemungkinan, Obama sewaktu-waktu bisa kalah atau dengan kata lain sedikit melunak –jika menang– akibat pengaruh dan tekanan yang kuat dari kekuatan lobi Yahudi. Atau dengan kemungkinan terburuk Obama terbunuh. Dengan begitu sikap Iran dan Suriah yang tidak mau tunduk begitu saja pada titah AS yang berstandar ganda, sejauh ini dapat dikatakan sudah berada pada jalan yang benar. Memang harus ada negara yang berani berdiri tegak menghadapi segala macam alibi pemerintahan AS yang dicengkeram cakar maut Zionis. Jika tidak, negara di Timur Tengah akan menjadi sapi piaraan yang sengaja digemukkan untuk kemudian diperas

obama

July 16th, 2008 by daeng05

Gara-gara foto itu, Obama yang pernah tinggal di Indonesia ini, dituduh menyembunyikan keIslamannya sebagai strategi mencapai ambisinya untuk Presiden AS melalui Partai Demokrat.

Tim Obama menjelaskan, pihaknya menduga adanya kampanye hitam terhadap Obama yang dilakukan oleh kelompok senator New York pendukung Hillary Clinton, pesaing berat Obama dalam pemilu presiden AS.

Foto Obama mengenakan pakaian tradisional Afrika disebarkan oleh situs The Drudge Report pada hari Senin (25/2), yang konon diambil saat Obama berkunjung ke wilayah Wajer, di Timur Laut Kenya pada Agustus 2006.

Gambar foto itu menampilkan Obama layaknya seorang syaikh Somalia yang mengenakan pakaian Islami, dengan memakai semacam sorban di atas kepalanya. Tim Sukses Kampanye Obama, David Plouffe mengatakan aksi kampanye hitam dilakukan oleh tim pendukung Hillary Clinton untuk merusak imej Obama yang dalam beberapa putaran suara unggul. Tapi tuduhan itu dibantah oleh kelompok Hillary dengan mengatakan, “Bila kelompok Barack Obama merasa bahwa foto-foto itu bisa memunculkan perpecahan pendukungnya, justru itulah yagn harusnya mereka rasakan sebagai keburukan mereka.”

Apa yang dilakukan tim sukses Obama dinilai terkesan berlebihan. Karena sebenarnya mereka bisa saja menanggapi foto itu dengan tenang dan tidak emosional. Menurut Abdullah Black, Pemred harian Somalia, “Foto Obama itu tidak menampilkan pakaian agama tertentu melainkan sebagai penghargaan penduduk Afrika terhadap tamu yang biasa saja dilakukan di Afrika. Sejumlah tamu biasanya mengenakan pakaian tradisional itu saat berkunjung sebagai tanda penghormatan dan pemuliaan orang Afrika terhadap tamu yang datang.” (nastr/iol

anak makassar

July 16th, 2008 by daeng05

anak makassar yang satu, punya impian yang sangat ambisius, pertama menjadi millioner, mengentaskan orang miskin di kampung halamannya, serta memnerikan pendidikan gratis buat orang-orang tak berpunya. klo di cermati impiannya tersebut seperti iklan pilkada tapi itulah sebuah impiannya ga bisa di ganggu gugat. karena merupakan misi sosial yang sampe saat  ini masih susah di wujudkan oleh institusi yang bernama negara. 

saiap yang harus tersinggung,obama or islam

July 16th, 2008 by daeng05

artun yang digambar oleh Barry Blitt, Obama dan isterinya terlihat sedang berdiri di Ruang Oval Gedung Putih. Di perapian terlihat bendera Amerika yang sedang terbakar, dan di atasnya terpampang foto pimpinan al-Qaidah, Usamah bin Ladin. Majalah mingguan The New Yorker memberi judul covernya "The Politic of Fear."

Juru Bicara tim kampanye Obama Bill Burton menyatakan, pihaknya tidak bisa menerima alasan yang dikemukakan The New Yorker bahwa kartun itu justru kritikan terhadap pesaing Obama yang mengaitkan Obama dengan Islam dan Muslim. "Kebanyakan pembaca akan melihat kartun itu sebagai sebuah serangan dan tidak berseni, " tukas Burton.

Namun pesaing Obama, John McCain lewat juru bicaranya Tucker Bounds ikut membela Obama dan mengecam kartun tersebut. "Kami setuju dengan tim kampanye Obama bahwa kartun itu tidak berseni dan merupakan serangan, " kata Bounds.

Editor The New Yorker David Remnick menampik tudingan itu. Ia mengatakan, cover majalahnya yang bertajuk "The Politic of Fear" adalah kombinasi dari beberapa gambar yang fantastis tentang Obama dan untuk menunjukkan adanya distorsi yang disampaikan para pesaing Obama.

"Satir adalah bagian dari apa yang kami lakukan, untuk membuka semua hal ke permukaan, memberikan cermin atas prasangka-prasangka buruk, kebencian dan absurditas. Inilah yang menjadi semangat dari sampul majalah ini, " jelas Remnick.

Pembuat kartun tersebut, Barry Blitt juga membela diri bahwa kartun itu justru untuk membantu Obama. "Saya pikir, ide bahwa Obama dicap sebagai orang yang tidak patriotik apalagi sebagai teroris dalam hal-hal tertentu sangat tidak masuk akal, " kata Blitt. (ln/al-araby)